ENSIKLOPEDI SASTRA >>>| A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |
PERIBAHASA >>>>>>>>>>| A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Search Only this Blog Content

Custom Search

Puisi Amir Hamzah Bukan Sastra Sufi

Puisi Amir Hamzah bukan aliran sufi? Mungkin saja.
Meskipun selama ini puisi-puisi sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah, sering dimasukkan sebagai karya sufistik, pengamat sastra Arief Bagus Prasetyo cenderung menolaknya."Amir Hamzah bahkan dimasukkan dalam antologi sastra sufi yang disusun oleh Abdul Hadi W.M.. Tapi, menurut saya, Amir Hamzah menjadi satu-satunya pengarang yang bukan sufi dalam antologi itu," kata Arif dalam diskusi "Mendaras Amir Hamzah" di Freedom Institute, Jakarta, Kamis (24/6) malam. Acara yang dipandu Nirwan Dewanto itu juga menghadirkan Sapardi Djoko Damono sebagai pembicara.
Buku sastra ini akan mengupas tuntas masalah sufi dalam sastra Indonesia.
http://www.tempointeraktif.com/hg/sastra_dan_budaya/2010/06/28/brk,20100628-259138,id.html

Seminar, conferense dan diskusi Sastra - Persoalan Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin

=
Kamis, 24/03/2011 | 19:33 WIB
Fauzi Beberkan Berkurangnya Anggaran PDS HB Jassin
“Waktu saya masih menjadi Wakil Gubernur, saya tinjau ke sana dan tahunya pada bocor."

Kamis, 24/03/2011 | 11:44 WIB
Pegiat Sastra Jawa Akan Gelar Kongres Sastra Jawa III
Para pegiat sastra Jawa akan menggelar Kongres Sastra Jawa (KSJ) III pada 11-12 November tahun ini.

Kamis, 24/03/2011 | 08:24 WIB
Seniman Bandung Galang Dana untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
Sejumlah seniman Bandung membuat gerakan solidaritas untuk Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di Jakarta.

Senin, 21/03/2011 | 18:26 WIB
Foke: Anggaran PDS HB Jassin Ternyata Kena Tsunami
Yayasan ini butuh dana operasional minimal Rp 1 miliar per tahun.

Senin, 21/03/2011 | 17:51 WIB
Pusat Sastra HB Jassin Tolak Bantuan Nasdem
"Kalau dari yayasannya baru kami mau."

Senin, 21/03/2011 | 16:30 WIB
Aktivis Prihatinkan Nasib Pusat Dokumentasi HB Jassin
"Pusat dokumentasi sangat penting, bagai harta karun bangsa ini"

Senin, 14/03/2011 | 08:50 WIB
Agenda Seni Hari Ini
Peluncuran dan diskusi novel "Jatisaba" karya Ramayda Akmal rencananya bakal digelar di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta, siang ini.

Kamis, 24/02/2011 | 14:38 WIB
Ubud Writers Festival 2011 Dipersembahkan untuk Ida Pedanda Made Sideman
Ida Pedanda Made Sidemen adalah sastrawan besar abad ke-20 di Bali.

Sabtu, 05/02/2011 | 10:20 WIB
Kuliah Umum Filsafat tentang Subyektivitas
Komunitas Salihara, Jakarta, mengadakan kuliah umum filsafat tentang subyektivitas menurut John Searle.

Sabtu, 05/02/2011 | 09:49 WIB
Agenda Seni Hari Ini
Hari ini Komunitas Salihara, Jakarta, akan menggelar kuliah umum filsafat tentang subyektivitas menurut John Searle dengan pembicara Bagus Takwin dari UI.

Kamis, 27/01/2011 | 16:22 WIB
Hamsad Rangkuti Dioperasi Awal Pekan Nanti
Sejumlah dana bantuan telah terkumpul dari para seniman dan masyarakat

Sabtu, 22/01/2011 | 15:22 WIB
Orhan Pamuk Batal Ikut Festival Sastra Sri Lanka
Pemenang Nobel Sastra mengaku kecewa tak dapat hadir karena masalah visa.


Jum at, 21/01/2011 | 15:12 WIB
Seniman Galang Dana untuk Pengobatan Hamsad Rangkuti
Sastrawan Hamsad Rangkuti masih terbaring di di Rumah Sakit Siloam Gleneagles

Sabtu, 15/01/2011 | 14:26 WIB
Empat Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
Dewan juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 telah mengumumkan empat pemenang unggulannya.

Jum at, 14/01/2011 | 15:26 WIB
Anugerah Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010
Bertempat di Teater Kecil TIM akan digelar Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010.

Jum at, 14/01/2011 | 14:31 WIB
Agenda Seni Hari Ini
Malam ini Dewan Kesenian Jakarta akan menggelar acara Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010

Selasa, 11/01/2011 | 15:38 WIB
Iran Larang Buku Paul Coelho
Pengarang The Alchemist itu akan menerjemahkan semua bukunya ke bahasa Persia dan membaginya gratis di internet.

Kamis, 16/12/2010 | 17:50 WIB
Kenzaburo Oe Bersaing Rebut Hadiah Sastra Asia
Karya pemenang Nobel Sastra itu masuk daftar calon penerima Man Asian Literary Prize 2010

Minggu, 12/12/2010 | 15:10 WIB
Sastrawan Jerman Bedah Fakta Lain Runtuhnya Tembok Berlin
Martin Jankowski mengungkap fakta lain tentang runtuhnya Tembok Berlin dan bersatunya Jerman Barat-Timur dalam novel terbarunya.

Jum at, 10/12/2010 | 16:11 WIB
Ratna Sarumpaet Angkat Konflik Maluku dalam Novel
Untuk mendapat gambaran yang utuh mengenai konflik saat itu, Ratna melakukan riset mendalam selama setahun di kawasan Maluku.
(source: www.tempointeraktif.com)

THE RITES OF TULUDE TRADITIONAL PARTY CEREMONY

 Tulude is an annual event of traditional culture of ethnic communitiesof Sangihe and  Talaud in North Sulawesi - Indonesia which  is held every end of January or early February. The event was held as a thanksgiving to God for His maintenance to the government and society in the year has passed and prayer request to ask of God's provision in the current year. This event held both province level, district, city, sub district, or village level. This event is by default held every January 31, but given leeway held several days before or after.





Kapitan Bisara: Menaka papulise
          (Installation Paporong)
Mayore Labo: This Papulise  taku itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa dimpolongang malambeng pe, saretau papulise ko bou nitaka ute ndai katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko We katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara: This Paporong will wear at the head of the mayor as a leader in the city of Bitung. After paporong charged, then let's keep growing and growing city of Bitung.
Kapitan Bisara: Menange U Bawandang
      (Installation Shawl)
Mr. D. Lahunduitan    :  Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu i sangeko su inang matahuena. Bawandang tendang karalungsemahe kararinda, kasasanau naung, katulusu endumang, wawengi melelaheu modo takasengkulang.
Kapitan Bisara: Gazette scarves worn to a wise Mrs. as a sign of blessing summarized by the purity of society heart  is given to the Mrs.  which maintains a good omen. Scarf is a symbol elegance, simplicity, humility, honesty, sincerity and fragrance signifies of wisdom.

Between the lines: Literary mags serve up variety - The Brown Daily Herald



Between the lines: Literary mags serve up variety - The Brown Daily Herald

Knights Contract: Proof that Namco is Where Literary Adaptations Go to Die



Knights Contract: Proof that Namco is Where Literary Adaptations Go to Die

Fajar Online - Menulis untuk Kebangkitan Budaya Sulsel


Fajar Online - Menulis untuk Kebangkitan Budaya Sulsel

Menggugat Kritik Mapan

After disbanding in an event called "Gathering Critic" at Taman Ismail Marzuki, a few friends, including me, get together again that night at five foot warteg Cikini Raya.
As he sipped coffee and munched fried tempeh, Hamid Jabbar nyeletuk toward me, "Haaa! Meet you guys. This Budi Darma ...! ". Mursal Esten said, "Hehe, this Damiri are not like novels Budi Darma ...!" The heroine, Budi Darma, when it was just a smile alone.
That year, 1984, by chance one of my writing that review the work of Budi Darma's novel Olenka gets the grand prize in a contest criticism. One of the Esten Mursal jury was earlier, when it's the only doctorate of literature in Sumatra!


 

Damiri Mahmud

Seusai bubar dalam satu acara “Temu Kritikus” di Taman Ismail Marzuki, beberapa kawan, termasuk saya, ngumpul lagi malam itu di warteg kaki lima Cikini Raya.
Sambil menghirup kopi dan mengunyah tempe goreng, Hamid Jabbar nyeletuk ke arah saya, “Haaa! Jumpa kalian. Ini Budi Darma…!”. Mursal Esten menimpali, “Hehe, Damiri ini saja yang tak suka novel Budi Darma…!” Sang tokoh, Budi Darma, ketika itu hanya tersenyum saja.
Tahun itu 1984, kebetulan satu tulisan saya yang mengulas novel Olenka karya Budi Darma mendapat hadiah utama dalam sebuah sayembara kritik. Salah satu jurinya adalah Mursal Esten tadi, ketika itu satu-satunya doktor sastra di Sumatera!
Tulisan itu seperti menyeruak atau memencil di tengah-tengah arus deras yang mengelu-elukan novel Olenka yang disambut dengan antusias. Novel itu ditulis pengarangnya, Budi Darma, kabarnya hanya dalam waktu tiga minggu saja, ketika dia bermukim di Amerika Serikat.
Dia mendedahkan seorang tokoh utama, Olenka, seorang perempuan (tanpa kebangsaan, tapi dengan polah dan petualangannya dengan orang-orang menunjukkan dia bukan orang Indonesia) yang kesepian dengan tindakan batiniah dan prilakunya menjurus kepada hal yang tidak biasa atau yang bukan-bukan.
Banyak resensi dan ulasan muncul di kolom-kolom koran dan majalah, sembari menyebutkan bahwa novel semacam itu sudah lama ditunggu-tunggu, ditulis dengan gaya yang lain dari yang lain. Ada lagi yang menyebut, novel itu memberikan pembaharuan dalam penulisan novel Indonesia. Pengarangnya diberikan penghargaan dan sebuah acara langsung digelar di TIM.
Tulisan saya justru menyusup ke sisi lemah novel itu dan menyimpulkan bahwa karya itu sebuah novel melankolik. Meskipun tulisan itu mungkin hanya sebuah denting di tengah-tengah gong besar, tapi ada suatu kesadaran dalam diri saya dan merupakan sikap dalam memandang sebuah karya kritik. Dia bukanlah satu keinginan gagah-gagahan atau kehendak meraih popularitas dan jauh dari pelampiasan rasa dendam kesumat.
Fenomena kritik sastra, yang usianya masih remaja, menurut hemat saya, tidak sehat. Apa yang dihunjamkan oleh HB Jassin, A. Teeuw, A.H. Johns, Keith Foulcher, Arief Budiman, Subagio Sastrowardojo, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, yang kesemuanya berorientasi ke Barat, selalu dilulur lumat-lumat oleh para penelaah berikutnya, apakah dia peneliti, penulis buku, dosen, mahasiswa, peminat dan pembaca.
Pendapat mereka telah menjadi mapan dan kemudian menjadi mitos yang susah diungkai. Aneh sekali, misalnya, ketika Teeuw mengatakan bahwa kata-kata yang dipakai oleh Chairil seperti secepuh, mengelucak, mereksmi, hambus, tidak dapat dipahami, para peneliti pun, salah satunya Zaenal Hakim, peneliti dari Pusat Bahasa, cenderung mengikuti saja pendapat filolog dari Belanda itu (lihat Zaenal Hakim, Edisi Kritis Puisi Chairil Anwar, Dian Rakyat, 1996, hal. 14).

Selengkapnya silakan masuk ke HARIAN ANALISA

TATA UPACARA GELAR ADAT TULUDE KOTA BITUNG

HUNDUGU MANGAMPANG TEMBONANGU WANUA HOST DINGANGU MATAHUENA SUWALAN MUNARANG TULUDE
(PROCEDURE FOR MAYOR Mr Pick
ON LOCATION WITH THE IMPLEMENTATION TULUDE Mrs)
Kapitan Bisara: Menaka papulise
(Installation Paporong)
Mayore laboratory: This Papulise TAKU itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa malambeng pe dimpolongang, saretau papulise ndai ko bou nitaka ute katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko we katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara: kukenakan Paporong will be at the head of Mr Major as leader in the city of Bitung. After paporong charged, then let the city keep growing and growing Bitung.
Kapitan Bisara: Menange U Bawandang
(Installation Shawls)
CPC. D. Lahunduitan: Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu su i sangeko matahuena host. Bawandang kick karalungsemahe kararinda, kasasanau home, katulusu endumang, wawengi melelaheu takasengkulang modo.
Kapitan Bisara: Sheet scarves subject to a wise mother as a sign of blessing the people covered by the purity of heart is given to the principal symbol of a good relationship. Keanggunanan scarf is a symbol, simplicity, humility, honesty, integrity and wisdom indicates fragrance................................

HUNDUGU MANGAMPANG TEMBONANGU WANUA
DINGANGU INANG MATAHUENA SUWALAN MUNARANG TULUDE
(TATA CARA PENJEMPUTAN BAPAK WALIKOTA
BERSAMA NYONYA DI LOKASI PELAKSANAAN TULUDE)

Kapitan Bisara    : Menaka papulise
          (Pemasangan Paporong)
Mayore Labo    :  Papulise ini taku itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa malambeng pe dimpolongang, saretau papulise bou nitaka ute ndai ko katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko we katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara    :  Paporong ini akan kukenakan di kepala Bapak Walikota sebagai pemimpin di Kota Bitung. Setelah paporong dikenakan, maka marilah bertumbuh dan bertumbuh memelihara kota Bitung.
Kapitan Bisara    : Menange U Bawandang
      (Pemasangan Selendang)
Bpk. D. Lahunduitan    :  Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu i sangeko su inang matahuena. Bawandang tendang karalungsemahe kararinda, kasasanau naung, katulusu endumang, wawengi melelaheu modo takasengkulang.
Kapitan Bisara    :    Lembaran selendang dikenakan kepada ibu yang bijaksana sebagai pertanda doa restu terangkum oleh kemurnian hati masyarakat diberikan kepada ibu perlambang suatu hubungan yang baik. Selendang adalah lambang keanggunanan, kesederhanaan, kerendahan, kejujuran, ketulusan dan keharuman menandakan kebijaksanaan.



MUNARANG KAKAKOA U TULUDE
TATA ACARA PROSESI TULUDE

Jam 15.00    :  Tamong Banua seng nasadia suwaleng Tembonangu Wanua’ng Bitung
        (Kue adat Tamo telah siap di rumah Bapak Walikota Bitung)

Jam 15.00 – 16.30    :  Buntuangu tamong banua niwawa wou waleng tembonangu wanua, metimona wanalang penanuludang.
       (Arak-arakan kue adat Tamo dari rumah Bapak Walikota menuju lokasi upacara adat Tulude)

Jam 16.30 – 17.30    :     Mengapia Hunduge
        (Gladi bersih)

Jam 17.30 – 18.00    :  Pedariahi munara seng iteta
        (Persiapan acara segera dimulai)

Jam 18.00     :     Mengampang Tembonangu Wanua dingangu inang leadateng.
        (Penjemputan Bapak Walikota bersama nyonya yang terhormat)


Catatan    : Prosesi ini diiringi oleh BARISAN KEBESARAN ADAT.


MANGINSOMAHE TEMBONANGU WANUA DINGANGU INANG
(PENJEMPUTAN BAPAK WALIKOTA BERSAMA NYONYA)

Kapitan Bisara    :     Tembonangu wanua dingangu inang leadateng seng nasahampi.
        (Bapak Walikota bersama nyonya yang terhormat telah tiba)

Mayore Labo    : Adate su Tembonangu Wanua dingangu inang
Kapitan Bisara    :     Penghormatan kepada Bapak Walikota bersama Nyonya.

Mayore Labo    :     Medalo Mawu Ruatang sembah, mengalamate su Tembonang dingang su inang leadateng, haki eweng nawuna su kudatong gighile tampa luliwosong daluase ore nilelesang takurange apa. Salamate nasahampi su taloarang u ana u wanua, mumanendeng adate su pukauhang tumanau tahanusa.
Kapitang Bisara    :    Terpujilah Allah yang disembah memberkati Bapak Walikota bersama nyonya sehingga tiba dengan selamat di tempat pelaksanaan Tulude, tempat yang dipenuhi sukacita dan damai sejahtera. Selamat datang di tengah-tengah masyarakat kawanua, menjunjung adat, mempersatukan bangsa.
Mayore Labo    :    Salamate naonto suwalang gumoba, nasahampi  sunileseng banalang iararo Konda iredorong sumalambeng ore lai si wawu inang Mahie dumaleng ore dumaleng, tumempang ore tumempang, dumaleng suraleng kimerong intang, daleng takonsange apa I ghenggona manangkoda, Ruata manireda o Mawu Rendingane.
Kapitang Bisara    :    Bapak Walikota bersama Nyonya, dimohon dengan penuh hormat, marilah kita berjalan dan berjalan, melangkah dan melangkah, berjalan beralaskan berkat Tuhan menuju tempat pelaksanaan Tulude, bangsal penyembahan dan pengucapan syukur.
Mayore Labo    :    Mitu Ganding…………
        (Barisan adat mengiringi Bapak Walikota berjalan menuju panggung).

MENDANGENG TEMBONANG
(Acara dilaksanakan di bawah panggung)

Kapitan Bisara    :     Mendangeng Tembonang
        (Mempersilakan junjungan naik ke atas panggung utama)
Mayore Labo    :    Nihengke nilawo niruiu nuhung suhiwang senggelangi tau makasalang naonto pekentengang suwalang tampungan ini lelawokang sambo pesasinengang.
Kapitan Bisara    :    Kedatangan pemimpin yang dijunjung dan dihormati Walikota Bitung beserta nyonya dan rombongan disambut dengan ketulusan hati dalam pangkuan damai sejahtera dari Allah Maha Kuasa.
Mayore Labo    :     Dangengke endai dangeng, karengkang endai karengkang endai dangeng antareng karengkang balobakeng ku endai rengkang, batungang taku batungang dengkaneng taku dengkaneng taku barungangu ukure dengkanengu kadadalure.
Kapitan Bisara    :    Kini yang dijunjung dan semua yang dihormati, silakan naik ke atas panggung utama melalui tangga yang disiapkan dalam kerinduan. Ayunan langkah memasuki rumah dibangun dengan sukacita berkat Tuhan menyertai. Selamat menaiki anak tangga ini.
Mayore Labo    :     Sohoko kaiang su kadera ure kaitolang sugaghalang bulaeng sene pia tatahulending.
Kapitan Bisara    :    Dipersilakan duduk di kursi kehormatan karena di situlah tempat yang diberkati.



HUNDUGU MONARANG TULUDE TAUNG 2006
KAWANUA DUNGANGU MENGA ANA
U WANUA KUDATO’NG BITUNG
SUELONG …….. 7 FEBRUARI 2006
SU NILESENG U BALENG LAWO BITUNG
TATA UPACARA PESTA ADAT TULUDE TAHUN 2006
MASYARAKAT DAN PEMERINTAH KOTA BITUNG
PADA HARI SELASA, 7 FEBRUARI 2006
DI LAPANGAN KANTOR WALIKOTA BITUNG

I..   KUMUI MENULUDE
      (AJAKAN MENULUDE)

Mayore Labo    :    (Mengucapkan kata-kata ajakan)
        Manga gaghurang, manga anau sembau, komolang leadateng, mahie ikite M E N U L U D E.
        ……………………………………………………………..
        Gandinge ………………………………………………..
Kapitan Bisara    :    Bapak-bapak, ibu-ibu dan undangan, hadirin yang terhormat, marilah kita M E N U L U D E.

MEKANTARI/MENYANYI (HADIRIN)

SUWULUDU DUMPAENG KILA

Suwuludu dumpaeng kila,  Suweda u Mawu Dalo
Mesuba Ruata su Mawu Ghenggona
Aha suraleng mapia
     Reff.      Inang, iamang Manembah
    Dudalahiwa sembah
    Ku’ mang menendeng kaliomaneng
    Kebi sulimang Duata……………..
Asalisang dedorongan salentiho gegausang
Uwuse pananggung katentung sulambung
Berkatu Mawu Rendingang
   Reff. …….

II..  TAMONG BANUA DUMOLONG BANALA
      MANARAKANG DINGANGU MANARIMA TAMO
      KUE ADATA TAMO MEMASUKI BANGSAL
      SERAH-TERIMA TAMO.

Kapitan Bisara    :    Tamong Banua dumolong banala
        (Kue adat Tamo memasuki bangsal utama)
        Menarakang dingangu menarima Tamo.
        (Serah-terima kue adat  tamo)
Bpk. A. Kakomba    :    Tamo mawangung kere woiang hundungi wansana, ambiaeng pedalawokang, kai biahe mapia uwuseng selambungang. Daeke doko daeke, tarima doko tarima.
Kapitan Bisara    :    Kue adat Tamo yang diolah oleh juru masak ulung, adalah santapan yang baik untuk semua orang. Ambillah dan terimalah.
Bpk. D. Lahunduitan    :    Manarimae tamong banua ini bebantugang, i pato su tengong kalipoho selambungang supatiku maehesu belageng ku ini’e seng tempone ikite metunduang.
Kapitan Bisara    :    Menerima kue adat tamo ini diletakkan di tengah-tengah para hadirin sekalian dan inilah saatnya akan diacarakan.

(Catatan : Sementara kue adat tamo naik ke atas panggung utama, disambut dengan nyanyiang: TAUNG TAMAI NALIU  oleh hadirin)

Taung tamai naliu
makatompe elo
Nanentangkeng susah naung
su tempong lahuang
Takudeakeng suapa
sau mesombang kapia
Arenge i  makakondo
I makatatompe elo



III.. BAWIKE BERANG TULUDE
      (PENGANTAR TULUDE)

Kapitan Bisara    :    Bawika berang tulude taung 2006
        (Pengantar Tulude Tahun 2006 oleh Ketua Panitia)
        Kata-kata : …………………………………………

IV..  KAKUMBAEDE
        (PERNYATAAN PUJIAN DAN HARAPAN)

Kapitan Bisara    :    Kakumbaede
        (Pernyataan pujian dan harapan)
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Katentung, kapapia, sau kapia mabawa sutempo mededaliu matuhu sukapulung kawasa liu’ng kawasa.
Kapitan Bisara    :    Keberadaan dan perobahan sejalan dengan waktu silih berganti untuk kehendak Dia yang Maha Kuasa.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Petatumbiahe, barauntu, hombang sigesa mededaliu maitu papaduline imatalentu liu’ng talentu.
Kapitan Bisara    :    Hidup dan penghidupan, keberuntungan, duka nestapa, semuanya di dalam pemeliharaan dan penghasilan Allah yang Maha Penyayang.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Penaniti, penanahimata, talengkong kakanoa, natentang tataghupia imasingking liuntuhaseng.
Kapitan Bisara    :    Penilikian dan bimbingan atas kekurangan dan ketidaklayakan kita, tertata menurut kesucian Allah yang cemburu adanya.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Kasasuku natinalung, kasasalamate samatang sulimang tintanude palede maralending matang ake u pubawiahe.
Kapitan Bisara    :    Kebahagiaan lahir dan  batin dan keselamatan hanyalah di kesejukan tangan Allah sumber air kehidupan.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Sutempong taumata nesilontahe, banua taniedong seke, apang bangsa mempeseke ketaeng Duata banggil’u karalungsemahe dimuluse dingangu pedarame.
Kapitan Bisara    :    Ketika manusia saling bermusuhan, negeri rusuh tiada hentinya, bangsa saling berperang, maka hanyalah Allah sumber ketenangan, turun menyelesaikannya dengan damai sejati.
Mayore Labo    :    Katuwo katamang sulimang Duata, katuwo katamang pehiking banua.
Kapitan Bisara    :    Bertumbuh dan bertumbuhlah di tangan Allah. Bertumbuh dan bertumbuhlah untuk negeri tercinta.

MENYANYI: MAKAKENDUNG SUSANGI

Makakendung susangi suralungu naungku
Makatahendung elo sarung pebiahengku
      Reff    Sutaung bulang kadentane
    Taung pinedaliune
    Mawu Ruataku, abe tentang elangU.

V.    MENAHULENDING BANUA
        (DOA PENGAKUAN-PENYERAHAN-PERMOHONAN)
         Penjelasan tentang Tathulending
                Kata-kata : …………………………………………..
Kapitan Bisara    :    Menahulending banua!
Bpk. D. Lahunduitan    :    (Membawakan doa tatahulending)
        Kata-kata ………………………………………

MENYANYI: OH MAWU RUATA

Oh Mawu Ruata talentuko ia
Napene u rosa, rosa masaria
       Reff. Tentiro ko sia daleng mapia
                Penata elangU suraralengangU.

VI.   SASALAMATE
       (UNGKAPAN HIKMAT MENGUNDANG KESELAMATAN)

Kapitan Bisara    :    S A S A L A M A T E
        ………………………………………………………
Bpk. Zaskar M.    :    M e b e r a n g
        Kata-kata ……………………………………………….

MENYANYI:  DALO SUMAWU RUATA

Dalo su Mawu Ruata, kakendage sutaumata
Ku untungke kaselahe su kebi umate
Salamate, leantibe suapang mempesasesile
Sorga mawantuge, luingate suapang mempetobate.
    Reff.    Ku’ untung salamate seng tetaghuanengu
    Ualing liaghang gatinU ore wuang saghedu
    Ku’ abe ghagholo… u…

VII.   MAMOTO TAMO
         (Pemotongan Kue Adat Tamo)

…..    :    Karalaheu Tamong Banua
Kapitan Bisara    :     Sekilas penjelasan tentang kue Tamo
…..    :      Meberang Papoto Tamo
        Kata-kata ……………………………………………..

MENYANYI:  KALU TINUWANG SUSERE
                      (Oleh Group Masamper)

VIII.    KAKALIOMANENG PATIKU
           (DOA UMUM)

Unsur Kristen Oleh : ………………………………………………….
Unsur Islam oleh    : ………………………………………………….
MENYANYI :  TAUNG INI RIMENTA
                       (Dinyanyikan oleh Group Masamper)

Taung ini rimenta, medorong su Ruata
Pehiking ko lai kapia, si kami manga elang
Bou rarodo matelang,  alamatu apahundingang
        Reff.  Su apang dalengang, Mawu abe panentang
                  Maning lai seng kakonda Mawu mambeng patenda
                  Kalaumure kebi, pakaraung dalai
                  Sarang taung ini mahi lai.

IX.     SASASA-SASALENTIHO
          (SAMBUTAN-SAMBUTAN)

Tembonangu IKSAT    : Bpk. Wilmers Lalelah, BcAk
Tembonangu Wanua    : …………………………………


X.      MEGEGHAUSE SEMOKOLE

Kapitan Bisara    :    Kakaliomanengu Saliwang
    :     Doa makan bersama oleh Bpk. Pdt. S. Darosa.
    Medoa …………………………………………………

Kapitan Bisara    :    Idope seng mapapato suimbe, galiopohe balageng ku dingangu adate Panitia megagause su Tembonangu Wanua, ore lai su manga Mawu leadateng, seng tempone ikite  metundung susaliwangu wanua pegionateng. Salamate masemang.
   Sajian telah tersedia di meja makan, dengan hormat Panitia mengundang dan mempersilakan Bapak Walikota Bitung bersama nyonya dan hadirin yang terhormat untuk santap bersama. Selamat menikmati santapan yang telah tersedia.


XII.     TATARIMA KASEH
          (UCAPAN TERIMA KASIH)

Kapitan Bisara    :    Tatarima kaseh u metetangkiang monarang Tulude taung 2006
        Ucapan terima kasih Panitia Tulude tahun 2006 disampaikan oleh Sekretaris Panitia.




XIII.     TATODE HUNDUGE II
           (PAGELARAN II)

Tari Gunde
Tari Salo
Koor dari empat (4) sub etnis
Sub etnis Sangihe     : lagu Sangihe Ikakendage
Sub etnis Siau    : lagu Tahanusaeng Siau
Sub etnis Talaud       : lagu Lembungu Rintulu
Sub etnis Tagulandang    : lagu di Utara Minahasa
Musik bambu
Masamper (3 jenis lagu)

XIV.     MENONDA TEMBONANG
            (MENGANTAR PEMIMPIN)


HUNDUGU MENONDA TEMBONANG
BOU WANALAN MONARANG TULUDE TAUNG 2006
(TATA ACARA MENGANTAR PEMIMPIN
DARI BANGSAL ACARA TULUDE TAHUN 2006)

Kapitan Bisara    :    Menonda Tembonang
        (Mengantar Pemimpin)

Mayore Labo    :    Manga gaghurang, manga anau sengkatau ….. engdangu dokolu moleng bauna, Malamber liune sukudatong Bitung, seng mebua dingangu bebatone boeng banala penanuludang ini.
Lumintu maranung hombang, lisadeng tawe silaka.
Lumempang sukoko Mawu, dumaleng sughaghengganu Ruata, kai koko ipenenda hombang. Gaghenggang, ipemalawa silaka mawuna u suniolang tawe kongsange apa.
Salamate mebua, dingangu tarima kaseh sumalambe leadateng.
Kapitan Bisara    :    Hadirin yang terhormat, kini Bapak Walikota Bitung bersama nyonya dan rombongan akan beranjak pergi dan berpisah dengan kita. Untuk itu, dengan segala hormat dan mengucapkan terima kasih serta dengan penuh suka cita, kami melepaskan Bapak Walikota turun dari bangsal di dalam nama Tuhan, pergi meninggalkan tempat ini, juga di dalam naungan kasih sayang-Nya.
        Nama yang menghapus segala yang jahat dan naungan yang dapat memberi keselamatan dalam perjalanan, hingga tiba di tempat yang dituju dengan damai sejahtera.
        Selamat jalan dan selamat berpisah Tuhan memberkati!

Mayore Labo    :    G a n d i n g e …………………….

Kapitan Bisara    :    Komolang dedorongang dumarisi
        (Hadirin dimohon berdiri)

MENYANYI :  OH MAWU RENDINGANE

Oh Mawu rendingane, i  kami manga elang
Su tempo kadentane, oh Mawu kaselaheng
      Reff.  Bae darodo matelang, tembonang kawanua
                Ahako suralengu, su i kekapulunu.

(Sementara bapak Walikota Bitung bersama nyonya meninggalkan tempat gelar adat Tulude)

Kapitan Bisara    :    Dingangu adate Tembonangu Wanua, seng manentangu tampa penanuludang.
        Dengan segala hormat, Bapak Walikota bersama Nyonya diperkenankan meninggalkan bangsal ini.




CATATAN:
MAYORE LABO     = PEMIMPIN UPACARA
KAPITAN BISARA = PEMANDU ACARA
WALIKOTA BITUNG DAPAT DIGANTI DENGAN NAMA JABATAN LAIN SESUAI WILAYAH ATAU TINGKATAN PEMERINTAHAN. MISALNYA GUBERNUR UNTUK TINGKAT PROPINSI, BUPATI UNTUK KABUPATEN, CAMAT UNTUK TINGKAT KECAMATAN, LURAH/KEPALA DESA/KAPITALAUNG UNTUK TINGKAT DESA/KELURAHAN.



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

LAGU-LAGU DARI SUB ETNIS


SANGIHE IKAKENDAGE (Sub Etnis Sangihe)

Sangihe ikakendage sarang papateku
Sidutu makaluase dalungu naungku
Maning pia dade dala limembong bantuge
Takere soang Sangihe maning kurang damene
          Reff.  Soang kinariadiangku (2x)
                   Ore ene naungang
                   Ore tetahendungang
                   Soang kinariadiangku.


TAHANUSAENG SIAU (Sub etnis Siau)

Tahanusaeng Siau banuaku tutune
Kakelaeng bou marau awu pia tipune
        Reff.   Maning itentang marau
                  Karangetang katahendungang
                  Sene ana u sembau tawe takawulenang


LEMBUNGU RINTULU (Sub Etnis Talaud)

Lembungu rintulu banua nilungkang
Porodisa ilelareng,
maning ta’ damene tala arangsange
Taloda mananaunganna.
       Reff.    Imberang wala asegone
                  Arie wala asiare
                  Porodisa mang su naungan-naungan
                  Talode mang su endumang.


DI UTARA MINAHASA  (Sub etnis Tagulandang)

1. Di utara Minahasa, terdapat pulaulah
    Diingat setiap masa berturut-turutlah

            Talise, Tagulandang, Biaro di tengah
             Para dan Mahangetang tiada jauhlah
             Pulau Karangetang, bahkan Siaulah
             Semuanya dipandang di mata manislah.

2.  Berjajar terus ke utara, Tampungang-Porodisa
     Terhimpun pulaunya yang indah, menghias cakrawala
         
    Kahakitang, Kalama, Bebalang, Batunderang
    Lipaeng, Kawaluso, Kawio, Marore
    Pulau Karakelang serta Salibabu
    Kabaruan, Karatung, Marampit, Miangas.

TRANSLATOR

News

Loading...

Popular Posts

Alternative Medicines

INFORMATION AND COMMUNICATION OF INDONESIAN CIVIL SERVANT